Oleh: Verry Guru
(Kasubag Kepegawaian dan Umum Disnakertrans Provinsi NTT)
Artikel yang sangat sederhana ini merupakan sebuah refleksi singkat dari seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerntah Provinsi NTT. Sekadar memotret sikap dan perilaku para pejabat yang cenderung berubah dan nampak arogan. Perubahan sikap para pejabat itu, hanya merupakan penilaian subyektif semata bukan melalui sebuah riset yang mendalam dengan metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan secata akademis.
Dalam diri seorang pejabat atau pemimpin di level mana pun; termasuk di instansi pemerintah; ada kecenderungan untuk menampilkan atau menonjolkan sikap yang arogan (sekali lagi ini penilaian yang sangat subyektif). Sikap ini menunjukkan bahwa di dalam diri pejabat tersebut (pejabat yang arogan) sesungguhnya tidak memiliki kepercayaan diri dan kurangnya sikap empati terhadap orang lain atau bawahannya.
Hal ini, tentu berdampak buruk terhadap kesehatan mental orang-orang yang dipimpinnya atau bawahannya. Meski sering dianggap sebagai salah satu simbol atau tanda kekuatan, namun sikap arogan para pejabat itu dapat menimbulkan berbagai masalah psikologis yang akan memengaruhi kesejahteraan secara keseluruhan.
Dampak lain, dari sikap arogan para pejabat terhadap lingkungan kerja dan para bawahannya adalah pertama, menyebabkan isolasi sosial yang ruwet, kedua, seringkali menyebabkan stres dan kecemasan, ketiga dapat menghambat pertumbuhan pribadi, keempat, memicu konflik interpersonal, dan kelima, berdampak pada kesejahteraan emosional jangka panjang.
Karena itu, dibutuhkan sikap dan kesadaran diri serta usaha untuk mengembangkan empati serta keterbukaan terhadap kritik. Tentu ini usaha yang tidak mudah. Dengan belajar menghargai pandangan orang lain dan menerima kelemahan diri, seseorang dapat memperbaiki hubungan sosial dan meningkatkan kesehatan mental. Sikap rendah hati dan penghargaan terhadap orang lain merupakan kunci untuk mencapai keseimbangan emosional dan kesejahteraan yang lebih baik.
Ya, arogan itu sikap sombong, congkak alias angkuh. Sikap superioritas terhadap orang lain, sangat subjektif dan membenarkan pikirannya sendiri padahal tidak sepenuhnya benar. Seolah-olah, jabatan atau kekuasaan adalah segalanya. Maka jauhi, kepemimpinan atau pejabat yang arogan di kantor atau di mana pun anda bekerja.
Sejatinya, sikap arogan melekat pada orang-orang yang insecure, merasa harga dirinya rendah. Mungkin karena pergaulannya tidak luas, tidak pernah berorganisasi sehingga wawasannya sempit, ibarat katak di bawah tempurung. Pemimpin yang arogan itu seringkali merasa kurang yakin dan tidak aman terhadap dirinya sendiri. Kesannya, berpura-pura lebih unggul dari orang lain. Begitulah cara orang arogan menyembunyikan rasa tidak percaya dirinya sendiri. Makanya, pemimpin arogan selalu berjuang keras mencari pengakuan dari luar, seperti status atau pujian. Merasa perlu untuk menonjolkan diri dan merendahkan orang lain agar merasa lebih berharga dan dihargai. Tapi di balik itu semua, pemimpin arogan tidak akan bisa mengisi kekosongan perasaan dan pikirannya sendiri dalam jangka yang panjang.
Di dekat kita, atau di organisasi atau kantor kita, ada terselip manusia yang memiliki tipe arogan. Saat baru memimpin, seolah-olah kepemimpinan sebelumnya salah atau keliru semua. Padahal aslinya, sejak dia mempimpin, pun tidak ada hal-hal signifikan yang dilakukannya. Omongnya besar, sikapnya sombong, dan pikirannya subjektif. Maka di situlah, pentingnya organisasi memiliki mekanisme komunikasi dan pengambilan keputusan yang kolektif. Bukan bertumpu pada si pemimpin yang arogan.
Zaman begini, mau tidak mau, pemimpin yang arogan harus dihindari. Karena sikap arogan membuatnya tidak sadar akan kelemahan diri sendiri. Pemimpin yang hanya mampu membesar-besarkan hal-hal yang dianggapnya bagus tentang dirinya (padahal tidak) dan yang paling fatal tidak menghargai pendapat atau kontribusi orang lain. Akibatnya, pemimpin yang arogan seperti ini, seringkali bersikap angkuh atau merendahkan orang lain. Bersikap merasa lebih tinggi dari orang lain tanpa alasan yang jelas. Orang yang tidak memahami kepemimpinannya sendiri, tidak menghargai keberagaman dan kontribusi orang lain, bahkan kepemimpinannya rapuh. Organisasi dibikin seperti maunya, semau pikirannya.
Kepemimpinan yang arogan, di mana pun levelnya, jelas berbahaya. Disadari atau tidak, orang arogan yang memimpin organisasi maka akan punya “agenda tersembunyi” yang bisa merusak kultur organisasi dan orang-orang yang dipimpinnya.
Hemat penulis, sebagai bawahan atau pengikuti yang loyal, jujur, dan berdedikasi; anda tidak perlu perlu menjelaskan transformasimu kepada siapa pun. Hidup yang tenang bukan tanda kamu menjauh dari dunia, tapi tanda kamu memilih dunia yang lebih sehat untuk dirimu sendiri. Hanya orang yang berani meninggalkan racun yang akhirnya bisa menikmati kedamaian tanpa drama.
Vilfredo Pareto sosiolog berkebangsaan Italia pernah menulis, ”perilaku manusia kadang-kadang perlu ditelanjangi, agar ia dapat menemukan yang sejati padanya.” Pareto memang tampak “latah” dengan menulis seperti itu. Tetapi itulah keberanian yang ia tunjukkan. Ia ingin agar orang “tahu diri” bahwa kesejatian diri kadang-kadang hilang karena kemunafikan, ketidakjujuran, keculasan, kepura-puraan, serta arogan; yang bertujuan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.
Pareto memang tidak mengada-ada. Ia serius berbicara tentang pentingnya kesejatian hidup. Hanya pribadi sejati yang dapat menikmati hidup ini sebagai anugerah dan berkat dari Sang Mahakuasa.
Dalam nada yang hampir sama, salah seorang staf di kantor mengirimkan pesan WhatsApp yang berbunyi :”jika ketakutan sudah menenggelamkan kejujuran maka kebohongan pun akan merajalela. Ketika keberanian telah lenyap maka kebohongan akan ‘melenggang-kangkung” sebagai sesuatu yang benar.”
Sampai di tikungan ini hanya ada satu kata LAWAN ! Karena masyarakat dan daerah ini tidak membutuhkan mentalitas pejabat yang sok arogan, rasa diri bersih, sok berkuasa, sok pakai ancam hanya untuk melanggengkan kuasa dan jabatan yang dititipkan di pangkuannya. Jabatan itu tidak abadi bos…! Ingat itu. (*)
