Kupang, swaratimor.co.id – Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, Sabtu (15/8/2026) secara bergantian menyampaikan pidato pembangunan dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Dalam pidatonya di aula Fernandes gedung Sasando Kantor Gubernur NTT itu, Melki menyampaikan berbagai kemajuan pembangunan yang telah dicapai yang terangkum dalam dasa cita pembangunan 1-5. Sementara Johni Asadoma menyampaikan dasa cita 6-10.
Pada dasa cita 3, Melki mengatakan, Pemerintah Provinsi NTT terus mendorong pariwisata sebagai salah satu kekuatan utama penggerak ekonomi daerah. Pengembangan Pariwisata tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperpanjang lama tinggal, meningkatkan belanja wisatawan pada produk dan jasa lokal, menjaga kelestarian lingkungan, serta memastikan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.
Hal ini disampaikan Gubernur NTT Melkiades Laka Lena dalam Pidato Pembangunan Provinsi NTT yang disampaikan di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Sabtu (15/8/2026).
Melki mengatakan, arah pembangunan pariwisata tersebut merupakan bagian dari Dasa Cita Ketiga: “Wisata NTT, Penggerak Ekonomi Lokal.”
“Pariwisata merupakan sektor strategis yang menggerakkan ekonomi melalui kekayaan alam, budaya, dan ekonomi kreatif. Karena itu, kita memperkuat destinasi, sumber daya manusia pariwisata, promosi, event, dan kolaborasi agar sektor ini semakin berdaya saing dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” jelas Melki.
Dikatakan, NTT memiliki lebih dari 1.600 daya tarik wisata, lebih dari 300 destinasi bahari, dan 534 desa wisata. Provinsi kepulauan ini juga memiliki Labuan Bajo sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas Indonesia. Pada 2025, sektor pariwisata memberikan kontribusi sebesar 7,71 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT. Jumlah kunjungan wisatawan juga meningkat dari sekitar 1,56 juta wisatawan pada 2024 menjadi sekitar 1,84 juta wisatawan pada 2025.
“Jumlah tersebut terdiri atas lebih dari 472 ribu wisatawan mancanegara dan sekitar 1,37 juta wisatawan nusantara. Selain jumlah kunjungan, kualitas kunjungan juga menunjukkan perkembangan. Rata-rata lama tinggal wisatawan meningkat dari 1,49 hari pada 2024 menjadi 1,67 hari pada 2025,” ungkap Melki.
Menurut Melki, peningkatan tersebut perlu terus didorong karena keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang datang.
“Rata-rata lama tinggal juga naik, meskipun masih perlu kita tingkatkan agar wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak untuk produk dan jasa masyarakat local,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi NTT, lanjut Melki, terus meningkatkan kualitas destinasi dan desa wisata, memperkuat promosi digital, menyusun kalender kegiatan pariwisata, serta mengembangkan berbagai event yang dapat menarik wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Sejumlah event seperti Tour de NTT, Kupang Exotic Run, dan Tour de Timor menjadi bagian dari upaya tersebut, dengan identitas promosi pariwisata NTT, “ Discover the Dream in NTT: A Thousand Dreams, One Archipelago.” Penguatan pariwisata juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas pelaku UMKM, pengelola desa wisata, kelompok sadar wisata, dan pemandu lokal melalui berbagai pelatihan dan pendampingan. Rehabilitasi sejumlah destinasi, termasuk Pantai Lasiana, diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan kenyamanan dan pengalaman wisatawan, tetapi juga untuk memperkuat potensi ekonomi daerah dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.
Dari sisi kesiapan pelayanan, lanjut Melki, pada 2026 NTT memiliki 861 fasilitas akomodasi dan lebih dari 2.500 rumah makan. Sementara itu, peran masyarakat dalam pengembangan pariwisata juga semakin mendapat pengakuan. Empat desa wisata NTT masuk dalam 15 besar Lomba Desa Wisata Nusantara 2025. Kampung Prai Ijing di Kabupaten Sumba Barat juga meraih ASEAN Sustainable Tourism Awards 2026, sementara sejumlah penggerak desa wisata NTT masuk dalam jajaran Pejuang Pariwisata Nasional. Budaya sebagai Kekuatan Pariwisata NTT Gubernur menegaskan, kekuatan pariwisata NTT tidak dapat dipisahkan dari kekayaan budaya masyarakatnya. Hingga 2025, terdapat 479 sanggar seni yang aktif di NTT.
Kekayaan tersebut dilengkapi dengan ratusan tarian, musik dan lagu daerah, tenun ikat, arsitektur tradisional, rumah adat, situs megalitik, serta berbagai warisan budaya lainnya. Karena itu, pengembangan pariwisata berjalan bersama dengan upaya pelestarian budaya.
“Pariwisata NTT juga bertumpu pada kekayaan budaya. Pelestariannya kita perkuat melalui pendokumentasian, revitalisasi rumah dan kampung adat, pelatihan seni dan kerajinan, pembelajaran berbasis kearifan lokal, penetapan Warisan Budaya Takbenda, serta festival, pergelaran seni, parade tari, dan kegiatan sastra,” jelas Melki lagi.
Menurutnya, budaya tidak boleh hanya menjadi ornamen dalam industri pariwisata. Budaya harus tetap hidup di tengah masyarakat dan menjadi sumber kebanggaan sekaligus sumber penghidupan. Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT mendorong keterlibatan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam rantai nilai pariwisata, mulai dari pengelolaan destinasi, akomodasi, kuliner, kerajinan, seni pertunjukan, pemanduan wisata, hingga penyediaan berbagai produk ekonomi kreatif. “Inilah semangat Dasa Cita Ketiga, ‘Wisata NTT, Penggerak Ekonomi Lokal.’ Pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi juga dari manfaat bagi masyarakat, kelestarian lingkungan, dan terjaganya identitas budaya,” tambah Melki.
Ia menegaskan, pembangunan pariwisata NTT diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus memperkenalkan NTT kepada Indonesia dan dunia.(ras)
