Kupang, swaratimor.co.id – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan utama dalam membangun Kota Kupang sebagai Kota Kasih, rumah bersama yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.

Penegasan tersebut disampaikannya saat menghadiri dan memberikan sambutan pada Perayaan Sannipata (Dharmasanti) Waisak Tingkat Kota Kupang Tahun 2570 BE yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Kota Kupang di Ballroom Palacio Hotel Aston Kupang, Kamis (16/7/2026).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Yang Mulia Bhante Jagaro Mahathera, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kota Kupang, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang, Antonius Nggaa Rua, Ketua Permabudhi Provinsi NTT, Indra Effendy, Ketua TP PKK Kota Kupang, dr. Widia Cahya, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Kupang, Ellisah Pelt Lumban Tobing, jajaran Pemerintah Kota Kupang, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi NTT dan Kota Kupang, tokoh lintas agama, pimpinan organisasi keagamaan,cserta umat Buddha Kota Kupang.

Mengawali sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi kepada Yang Mulia Bhante Jagaro Mahathera yang telah berkenan hadir di Kota Kupang. Ia mengaku memperoleh pelajaran berharga dari percakapannya bersama Bhante sebelum acara dimulai. Menurutnya, keputusan Bhante untuk memusatkan perhatian pada seluruh rangkaian kegiatan keagamaan sebelum menikmati waktu untuk berwisata merupakan teladan tentang pentingnya pengendalian diri.

“Menunda kesenangan bukan berarti menolak kebahagiaan, tetapi melatih diri agar tidak dikendalikan oleh keinginan. Nilai sederhana ini mengandung makna yang sangat mendalam dan layak menjadi inspirasi bagi kita semua,” ujar Wali Kota.

Wali Kota juga menyampaikan kebahagiaannya dapat hadir bersama umat Buddha meskipun pada waktu yang sama terdapat agenda penting lainnya. Baginya, kehadiran tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus wujud kasih Pemerintah Kota Kupang kepada umat Buddha yang selama ini turut berkontribusi dalam pembangunan daerah melalui berbagai bidang, mulai dari ekonomi, sosial, budaya hingga kegiatan-kegiatan kemanusiaan.

Ia memberikan apresiasi atas berbagai rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan dalam menyambut Hari Raya Waisak, seperti donor darah, bakti sosial, dan aksi peduli lingkungan. Menurutnya, kegiatan tersebut membuktikan bahwa nilai-nilai agama tidak berhenti pada perayaan dan ritual semata, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

“Nilai agama harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Donor darah, bakti sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan bentuk nyata pengamalan ajaran agama yang membawa manfaat bagi sesama,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Wali Kota juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Kupang untuk terus mendukung kegiatan-kegiatan keagamaan sebagai bagian dari upaya memperkuat kerukunan dan persatuan masyarakat. Menurutnya, pembangunan tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui pembangunan karakter, moral, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih lanjut, Wali Kota mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga keberagaman yang menjadi identitas Kota Kupang. Ia mengibaratkan keberagaman seperti nada-nada dalam sebuah lagu maupun benang-benang dalam kain tenun. Meski berbeda, seluruh unsur tersebut berpadu secara harmonis sehingga menghasilkan keindahan.

“Persatuan bukan berarti menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama dalam perbedaan. Keberagaman bukan penghalang, melainkan kekuatan yang mempersatukan kita untuk membangun Kota Kupang sebagai rumah bersama,” ungkapnya.

Mengutip sebuah ungkapan bijak, Wali Kota mengatakan bahwa datang bersama merupakan sebuah permulaan, tetap bersama adalah sebuah kemajuan, sedangkan mampu bekerja bersama merupakan sebuah kesuksesan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi lintas agama, lintas suku, dan lintas budaya demi mewujudkan Kota Kupang yang semakin maju dan harmonis.

Menutup sambutannya, Wali Kota menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Waisak 2570 BE kepada seluruh umat Buddha. Ia berharap perayaan suci tersebut membawa kedamaian, kebijaksanaan, dan semangat cinta kasih yang semakin mempererat persaudaraan di tengah masyarakat. Menurutnya, membangun kota tidak hanya berarti membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusia yang berkarakter, bermoral, serta saling menghormati. Karena itu, organisasi keagamaan seperti Permabudhi memiliki peran strategis dalam memperkuat nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan sebagai fondasi Kota Kasih.

Ketua Permabudhi Provinsi NTT, Indra Effendy, mengatakan bahwa Perayaan Trisuci Waisak menjadi momentum untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha sekaligus menghayati nilai cinta kasih dan kasih sayang universal sebagaimana tema Waisak tahun ini, “Dharma Menjaga Kedamaian Dunia”. Menurutnya, nilai-nilai Dharma harus diwujudkan melalui kepedulian sosial, pengendalian diri, serta semangat menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Wali Kota Kupang beserta Pemerintah Kota Kupang yang telah memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan seluruh rangkaian Perayaan Sannipata Waisak. Menurutnya, dukungan tersebut merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah dalam memfasilitasi kehidupan beragama serta merawat harmoni dan toleransi di Kota Kupang sebagai Kota Kasih.

Mengakhiri sambutannya, Indra Effendy menjelaskan bahwa rangkaian peringatan Waisak tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, di antaranya pendalaman Dharma, bakti sosial, donor darah, aksi peduli lingkungan, kunjungan ke panti sosial, hingga puncak Perayaan Trisuci Waisak. Ia mengajak seluruh umat Buddha untuk terus bergotong royong, menjaga kelestarian lingkungan, serta berkontribusi aktif dalam mendukung pembangunan Kota Kupang demi terwujudnya masyarakat yang damai, harmonis, dan sejahtera.(*/chris dethan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: