Valerius P. Guru.(*)

Oleh: Valerius P. Guru
(Kasubag Kepegawaian dan Umum Dinas Nakertrans NTT)

HAMPIR tujuh purnama, tak pernah mengikuti apel bersama seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemerintah Povinsi NTT. Karena itu, tatkala pada Senin, 31 Agustus 2026 lalu, saat hadir di depan Gedung Sasando Kantor Gubernur di Jalan El Tari Kupang, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena yang memimpin apel; yang juga dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTT, Fransiskus Sales Sodo serta para pejabat dan ribuan ASN.
Dalam arahannya, Gubernur Melki lebih banyak menyoroti perhatian, simpati, serta empati dari berbagai pihak yang bersolider terhadap nasib dan keberadaan masyarakat sebagai dampak dari bencana gempa Flores yang terjadi pada Sabtu dini hari, 15 Agustus 2026 silam. Bahkan secara lugas Gubernur Melki mendengar langsung pengalaman Gubernur NTB, Lalu Iqbal dalam menangani gempa di Provinsi NTB beberapa waktu lalu. Juga curahan hati masyarakat yang terkena gempa dengan mengatakan, “kami sudah terbiasa dengan hidup miskin. Kami juga sudah terbiasa dengan hidup susah. Namun kami merasa tidak sendirian karena kehadiran Bapak Gubernur yang mau tidur bersama kami di tenda.”
Sepintas ungkapan hati masyarakat yang ditutur ulang Gubernur Melki, terkesan biasa saja. Namun sesungguhnya ada makna eksistensial tentang kehadiran. Kehadiran merupakan bahasa jiwa dalam tata laku hidup manusia dan kemanusiaannya.
Dalam terang teologi – antropologi: ijinkan saya mengutip kisah dua murid yang menempuh perjalanan ke Emaus; kehadiran menjadi sebuah doa yang berisi harapan dan permohonan seakan-akan dua murid itu, tidak hanya menawarkan bantuan kepada sosok misterius yang tanpa sengaja menemani perjalanan mereka dari Yerusalem. Tetapi sesungguhnya, Tuhan yang hadir dalam rupa orang asing itu, menerima undangan itu; sebagai jawaban langsung atas doa dan harapan mereka, yang berada jauh di lubuk hati mereka.
“Tinggallah bersama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam” (Luk 24: 29). Tuhan mengubah ketidaktahuan mereka sebagai jalan untuk mengalami perjumpaan yang ajaib dan penuh misteri di dalam iman.
Tuhan merelakan diri-Nya untuk masuk ke dalam rumah mereka – tempat segala kesibukan dan rutinitas ditangguhkan. Sebuah rumah untuk meindungi diri dari ketakutan, juga kegelapan yang mencekam, yang datang bersama kekecewaan dan keputusasaan. Bahkan tanpa mereka sadari sebelumnya, kehadiran Tuhan justru melampaui ketakutan itu dan Tuhan memasuki rumah hati mereka; menghalau kegalauan dan mengubah keputusasaan menjadi sukacita dan kegembiraan yang hidup. Pengalaman perjumpaan itu mempersatukan mereka dalam pemecahan roti. Dua murid itu melihat Tuhan yang bangkit kemudian kembali ke Yerusalem membawa sukacita tentang kebangkitan Tuhan Yesus.
Dalam nada yang lain, kehadiran sesungguhnya memiliki dimensi makna spiritual; membawa sukacita di tengah perasaan kering, kesendirian, dan kecemasan. Lagu – Stay With Me – yang dinyanyikan oleh Sam Smith di 2014 silam dalam albumnya yang berjudul in The Lonely Hour, juga menggambarkan sebuah perasaan yang hampir sama; kerinduan akan kehangatan. Bahwa kesepian dan kepergian itu menyakitkan. Keterpisahan membuat hidup menjadi buram dan kesendirian tanpa orang-orang tercinta; sungguh sangat melemahkan semangat.
Konon kabarnya, beberapa pasien yang lanjut usia, terbaring tak berdaya di rumah sakit atau di rumah mereka mendadak sembuh dari sakit setelah mengetahui sang kekasih hati atau anak-anak serta keluarga mereka, datang menjenguk mereka dengan sebuah pelukan hangat. Sungguh menakjubkan! Betapa kehadiran itu menjadikan hidup menjadi penuh warna dan warni. Atau mungkin, seorang gadis yang sedang dilanda putus cinta; bisa saja membatalkan niatnya untuk bunuh diri, setelah sang kekasih hati yang sangat dicintainya tiba-tiba datang di saat yang tepat, lalu kemudian memeluk dan merangkulnya dengan perasaan yang lega.
Kehadiran sebagaimana dalam artinya yang paling positif – menampilkan intensi psikologis manusia bahwa ada daya simpati bahkan empati yang ikut menggerakkan perasaan tiap orang agar menempatkan orang lain sebagai “Aku yang berbeda”. Dan pada titik ini kita dapat menemukan – kehadiran – secara lebih luhur dan mulia dalam pemaknaannya bahwa darinya kepedulian dan solidaritas tumbuh untuk merasakan dukacita dan kepedihan bersama. Karena di dalam kehadiran – tiap pribadi tidak hanya merasakan pengalaman perjumpaan, tetapi juga dialog yang menggerakkan hati, pikiran dan juga perasaan.
Karena itu, dalam situasi tertentu terutama situasi yang dialami oleh masyarakat yang terkena gempa Flores – kehadiran – merupakan satu-satunya harapan untuk mengalami sukacita dan kegembiaraan. Gempa Flores bukanlah sebuah tragedi. Karena itu, kunjungan keluarga, kenalan, atau pun para sahabat serta para pejabat mulai dari Presiden, para Menteri, dan para Gubernur justru mengungkapkan sukacita tersendiri bagi masyarakat yang terdampak gempa. Karena itu, setiap kunjungan yang datang – justru memberi arti dan makna yang lebih penting serta lebih mendalam – meski masyarakat juga sangat membutuhkan bantuan berupa makanan, obat-obatan, perlengkapan tidur dan lain sebagainya.
Masyarakat yang terkena dampak gempa Flores, yang mendapat kunjungan dari para pejabat dan juga relawan pun akan belajar mencintai diri mereka secara positif bahwa pengalaman gempa Flores ikut memberi gambaran bahwa diri mereka masih sangat berharga. Gempa Flores tidaklah dimaknai sebagai “tragedi” kemanusiaan.
Namun di sisi yang lain, ada hikmah “berharga” yang dapat dipetik bahwa gempa sebagai bencana atau tragedi yang tidak (pernah) dikehendaki hadirnya. Siapapun dia. Tetapi tatkala gempa itu ada sebagai kenyataan, maka sebaiknya dihadapi sebagai kesempatan “berahmat” untuk membangun secara lebih baik. Hal mana tidak mungkin dilakukan jika tidak ada bencana gempa (di) Flores.
Kita harus mengakui bahwa pembangunan masih cenderung bersifat tanggap darurat. Karena itu, momentum gempa Flores beberapa waktu yang lalu harus menjadi panggilan jiwa untuk berbuat lebih fokus pada titik terdampak; hal mana akan sangat sulit dilakukan jika tidak ada bencana gempa (di) Flores. Gubernur Melki dan para bupati khususnya di Flores harus menangkap kesemptan ini untuk berbuat lebih alias ekstra kerja. Orang Latin bilang carpe diem yang artinya menangkap kesempatan.
Di ititik ini, kita terus bergumul dan membawa peristiwa gempa (di) Flores di dalam doa-doa kita; agar Gubernur Melki dan seluruh jajarannya tetap kuat dan sehat dalam memimpin daerah dan masyarakat NTT tercinta. Kita semua harus: Kompak, Solid, Bersatu Untuk Rakyat, Petarung, Ayo Bangun NTT, Ayo Bangun Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: